Sabtu, 05 Januari 2019



LPP 2 2019 IAIN PONOROGO

Salam Pramuka
Silahkan unduh berkas yang ada dibawah ini

1. Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis LPP 2 IAIN Ponorogo Hasil TM 10 Februari 2019
    Unduh disini
2. Formulir Pendaftaran
    Unduh disini
3. Surat Keorisinilan
    Unduh disini
4. Form Mading 3D LPP 2019 IAIN Ponorogo
    Unduh disini
5. Form Perkusi LPP 2019 IAIN Ponorogo
    Unduh disini
6. Lembar Filosofi Desain Maskot LPP 2019 IAIN Ponorogo
    Unduh disini
7. Buku Budaya Jawa
    Unduh disini
8. Jadwal Kegiatan LPP 2019 IAIN Ponorogo
    Unduh disini
9. Surat Delegasi
    Unduh disini
10. Buku Blackbook Rover Scout
    Unduh disini
11. Tata Tertib Umum LPP 2019
    Unduh disini
12. Tata Tertib Per Mata Lomba LPP 2019
    Unduh disini
13. Sasaran Tembak
    Unduh disini
14. Contoh PBB Kreasi
    Unduh disini

Rabu, 25 April 2018


REYOG PONOROGO
Reog adalah sebuah kesenian asli Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Yang merupakan kesenian ketangkasan membawa topeng macan berwarna merah dengan hiasan bulu – bulu Merak yang beratnya bisa mencapai 50 kg. Kesenian ini lahir dari budaya setempat yang masih kental dengan unsur mistiknya. Tidak ada yang tau kapan kesenian ini dilahirkan, tetapi sudah ada sejak tahun 1920-an.
Reog adalah sebuah kesenian warisan budaya yang memiliki sejarah panjang. Ada yang mengatakan reog berasal dari seorang abdi dalem kerajaan Majapahit yang bernama Ki Ageng Kutu. Ki Ageng Kutu merasa Kerajaan Majapahit sudah dikacaukan oleh Penjilat dan Koruptor, melihat suasana ini, Ki Ageng Kutu keluar dari kerajaan dan mengajarkan bela diri dan kesenian pada anak – anak muda. Lalu lahirlah Reog. Sebagai media untuk mengkritik kerajaan Majapahit. 
Reog Ponorogo biasa dimainkan oleh 6 – 8 pemuda, seluruh pemain di wajibkan memakai baju serba hitam. Tarian Reog diiringi musik yang bersumber dari suara kendang, gong, dan angklung paglang. Dalam setiap pertunjukan, Reog biasanya diiringi oleh seni tradisi lain seperti Jathilan (kuda kepang) dan bujang ganong (ganongan).
Yang menarik dalam Reog adalah adanya penari yang tampak kesurupan dan mampu mengangkat orang dewasa diatas topeng. Tidak terbayang berapa jumlah beban yang disanggahanya dengan kekuatan gigi. mengangkat topeng reog yang beratnya samapi 50 kg itu hanya dengan menggunakan gigi. Hanya orang – orang yang kuat perenungannya yang bisa mengangkatnya.
Reog Ponorogo adalah salah satu budaya yang harus dilestarikan, karena merupakan hasil karya perenungan seseorang terhadap ketidak adilan  disekitarnya. Mari cintai Reog Ponorogo, jangan sampai kesenian tradisi ini menjadi tamu di rumahnya sendiri.





[Hidayatul Khikmah/Pramuka IAIN Ponorogo

Senin, 05 Maret 2018

SEJARAH UKM GERAKAN PRAMUKA RACANA RONGGO WARSITO-NIKEN GANDINI



A. Profil berdirinya UKM Gerakan Pramuka Racana Ronggo Warsito-Niken Gandini STAIN Ponorogo
Berdirinya UKM Gerakan Pramuka di STAIN Ponorogo berawal dari kegelisahan mahasiswa yang peduli akan gerakan mahasiswa di perguruan tinggi terutama yang terfokus pada bidang kepramukaan, akan tetapi aktivitas gerakan itu tetap berkaitan erat dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dari itulah muncul sebuah pemikiran dan gagasan untuk membentuk Gerakan Pramuka Pandega yang berpangkalan di STAIN Ponorogo.
Setelah melalui beberapa proses, akhirnya pada tanggal 10 Mei 1994 berdirilah UKM Gerakan Pramuka gugusdepan 04089-04090 yang berpangkalan di STAIN Ponorogo. Untuk Racana Putra diberi nama Ronggo Warsito, dan untuk Racana Putri diberi nama Niken Gandini. Kedua nama tersebut diambil dari dua nama tokoh yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Ponorogo. Untuk megenal lebih jauh siapa beliau berdua akan dijelaskan dibawah ini;
1. Ronggo Warsito
Nama aslinya adalah Bagus Burhan. Ia adalah putra dari Mas Pajangswara juga disebut Mas Ngabehi Ranggawarsita. Ayahnya adalah cucu dari Yasadipura II, pujangga utama Kasunanan Surakarta. Ayah Bagus Burhan merupakan keturunan Kesultanan Pajang sedangkan ibunya adalah keturunan dariKesultanan Demak. Bagus Burhan diasuh oleh Ki Tanujaya, abdi dari ayahnya sampai berusia 12 tahun.Raden Ngabehi Rangga Warsita, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 15 Maret1802, meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 24 Desember 1873 pada umur 71 tahun.
Ronggo Warsito mulai berguru ilmu agama kepada Kanjeng Kyai Imam Besari di Pondok pesantren Gerbang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo. Kanjeng Kyai Imam Besari merupakan menantu Paku Buwana IV dan teman seperguruan R.T Sastranegera. Bagus menjadi salah satu murid yang terpintar, selain pintar Bagus Juga rajin dalam menjalankan ritual dan latihan-latihan yang diberikan di pesantren. Bagus juga kemudian mulai aktif menjadi pengurus pesantren, dan mulai membantu dalam memberikan pelajaran dipesantren. Setelah beberapa tahun mondok di Pesantren dan dirasa sudah cukup pengetahuan dan ilmunya tentang agama, kemudian Bagus Burhan kembali pulang ke Surakarta.
Di Surakarta Bagus Burhan diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian Yasadipura II, Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845. Pada masa inilah Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian.
Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ranggawarsita. Misalnya, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa, Ranggawarsita peka terhadap keluh kesah rakyat kecil. Dan Beliau juga terkenal sebagai pujangga besar budaya Jawa yang hidup diKasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.
Istilah Zaman Edan konon pertama kali diperkenalkan oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, yang terdiri atas 12 bait tembang Sinom. Salah satu bait yang paling terkenal adalah:
amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada.


yang terjemahannya sebagai berikut:
menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila),
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.[1]
Syair di atas menurut analisis seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmito adalah ungkapan kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi. Syair tersebut masih relevan hingga zaman modern ini di mana banyak dijumpai para pejabat yang suka mencari keutungan pribadi tanpa memedulikan kerugian pihak lain.
Tujuan dasar dan harapan yang teramat besar dalam pengambilam nama tersebut supaya menjadi uswatun hasanah yang terbangun dalam jiwa pramuka yang berbudi luhur, sehingga mampu menciptakan generasi Gerakan Pramuka yang siap terjun dalam masyarakt luas.
2. Niken Gandini
Niken Sulastri atau yang lebih dikenal dengan Niken Gandini adalah putri dari Kerajaan Wengker yang Bernama Ketut Suryo Ngalam atau lebih di kenal Ki Ageng Kutu. Niken gandini dikenal cantik rupawan, lemah lembut dan berbudi luhur. Beliau adalah istri Batoro Katong yaitu Bupati pertama Ponorogo. Beliau adalah figure seorang ibu yang patut dicontoh bagi masyarakat Ponorogo dan sekitarnya.
Melalui figure Niken Gandini diharapkan Gerakan Pramuka Racana Putri STAIN Ponorogo mampu mencetak generasi putri tidak hanya cantik rupaya saja, tetapi lebih pada cantik budi pekerti serta tutur katanya, sehingga tercapai tujuan menciptakan generasi putri yang siap menjadi panutan bagi masyarakat.

LPP 2 2019 IAIN PONOROGO Salam Pramuka Silahkan unduh berkas yang ada dibawah ini 1. Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis LPP...